Sabtu, 18 Maret 2017

SUTUP


Gadis itu menari-nari, tangannya yang menampakan kulit langsat meliuk-liuk dan melambai kepada sosok di depannya. Jemari lentiknya seperti mengisyaratkan setiap lelaki untuk menggerakan persaan cintannya. Sungguh gadis yang cantik. Sosok di depannya berlutut untuk memohon kepadanya.
“aku ingin memelukmu di keabadian”
Sayup suara bernada kagum muncul dari mulut sosok itu.
Gadis itu pun tersenyum sembari menganggukan kepalanya pertanda ia memberikan seluruh hidupnya untuk sosok di depannya. Tariannya semakin agresif, tubuhnya berputar-putar menedekati sosok itu dan menjatuhkan diri di kedua tangan pria yang sedari tadi hanya terlihat sebagai sosok bayangan.

***

“Putus?”
Ujar seorang gadis di hadapanku dengan nada terkejut.
”Kalau kamu maunya seperti itu ya sudah, jangan hubungi aku lagi.” sambung gadis itu. Dengan cepat ia memalingkan badannya membelakangiku dan berjalan menuju persimpangan sambil melambaikan tangannya ke arah sebuah kendaraan yang sedang melintas.
Bola mataku hanya tertuju ke arahnya yang beranjak masuk ke dalam taxi yang ia berhentikan sore itu. Sedang tubuh ini hanya berdiri mematung seraya taxi yang ia tumpangi melaju pergi. Aku berpikir kenapa harus menyatakan putus dengannya? Tiba-tiba saja rasa sesal telah menyatakan hal yang sebenarnya tidak aku inginkan ndekap.
Aku kembali tersadar setelah beberapa menit larut dalam lamunan. Mataku lalu mengok motor sekuter matik miliku yang terparkir di sebelah trotoar tempat aku berdiri. Lalu aku hampiri ia dan menghidupkan mesinnya. Sekuterku beranjak dan akupun kembali melamun.

Aku mengakhiri hubunganku dengan gadis yang sudah aku pacari selama empat tahun lamanya. Gadis yang menjadi seniorku di kampus. Kami menyatakan pacaran selang dua hari setelah ospek di jurusanku. Awalnya aku tidak terlalu tertarik padanya. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai menemukan beberapa sifatnya yang membuatku tertarik. Ya! Pada akhirnya aku menjadi takut kehilangan dirinya.
Pada saat aku menyatakan putus sebenarnya aku sangat ragu. Namun, belakangan ini pacarku mulai menampakan rasa bosan berhubugan denganku. Sikapnya yang mulai datar menjadi pertanda dia tidak lagi tertarik padaku. Terlebih dia yang sudah mulai bekerja di sebuah perusahan mulai sibuk dengan pekerjaanya. Sedangkan aku yang masih kuliah ini mulai kurang memperhatikannya karena fokus menghadapi skripsi.
Kepalaku kembali teggak, lamunanku pun menguap perlahan. Kesadaranku kembali menempati kepala yang tadi terisi kenangan manis yang mungkin tidak akan terulang. Aku perhatikan sekitar. Jalanan saat itu cukup ramai dengan pejalan kaki dan beberapa pengendara motor.


****

Esoknya aku terbangun dari tempat peristirahatanku. Sepulang dari perjalanan kemarin aku habiskan waktuku untuk merenungkan kegundahaanku. Aku tidak habis pikir, kenapa aku bisa memutuskan kekasihku sedangkan aku sebenarnya masih sayang padanya. Tetapi aku serahkan pada waktu, mungkin sudah jalanku.
“Rakaaaaaaaaaa, ayo bangun!!!!”
Suara nyaring tanteku seolah membuatku tersadar. Aku bergegas turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Di depan wastafel aku membasuh muka, bayangan di depanku seperti mencemoohku ketika aku melihat mataku sedikit sembam saat aku melihat cermin yang tergantung di atas wastafel.
“Sarapan sudah siap, cepat keluar dari markasmu yang bau itu”
Tante Joan memanggilku lagi. Sudah menjadi kebiasaanya membangunkanku untuk sarapan. Semenjak ibuku meninggal enam tahun lalu, aku tinggal bersama adik ibuku ini. Ayahku tinggal di Canberra bersama istri dan adik tiriku. Tante Joan mengusulkan pada ayahku untuk tinggal bersamanya ketika aku menolak untuk ikut bersama ayahku. Sebenarnya ayah dan ibu tiriku selalu membujuku untuk tinggal bersama mereka, namun saat itu berat sekali untuk meninggalkan sahabatku di sekolah menengah.
“iya tante, aku sudah keluar kamar. Ini aku di kamar mandi” timpalku.
“Sarapan sudah di meja, kamu antar Tiara ke sekolah ya. Tante pergi dulu ke laundry
Sebagai single parent tante Joan membuka usaha binatu sebagai mata pencahariannya. Usahanya cukup sukses, ia memiliki tiga pegawai di perusahaannya. Aku terkadang membantu tante mengantarkan hasil cucian ke rumah pelanggan jika kuliah sedang libur.


***

Jumat, 17 Maret 2017

BERSITEGANG

Diam
Biar mereka lelah
Saling membenarkan
Faham diri mereka
Tidak berpikir panjang
Bersitegang

Biar
ego mereka
Saling bersetubuh
Membangun konflik
Tanpa berpikir panjang
Bersitegang

Aku
hanya menonton
Pilu hati meratapi
Saudara-saudara
Satu tanah air
Tidak berpikir panjang
Bersitegang

Mereka
Para elit di gedung
Pembantu rakyat
Para berpangkat
Terbahak melihat drama
Tidak berpikir panjang
Beraitegang

Kasihan….

-Osmond-
26 Jan 2017

SINAR MENTARI

Pagi ini kita diterpa sinar mentari yang sama. Masihkah kita membeda-bedakan?

Sudah sewajarnya dirimu duduk sama rendah denganku di pelaminan nanti, bersama kerabat yang menyaksikan kita berpadu bersama menjadikan perbedaan adalah sebuah pola pikir semata.

Sungguh indah bersamamu dalam keadaan homogen, bukan dalam hal fisik, tapi dalam idealisme.

Sayangnya besok belum tentu keberadaan kita dapat tertangkap indrawi, mungkin hanya tinggal perasaan. maka untuk beberapa waktu saja aku ingin dirimu menyadari bahwa mentari kemarin tiada bedanya dengan hari ini, hanya rintangan yang terbentuk dari gumpalan awan yang menghalangi eloknya. sinarnya tetap bersamamu, bersamaku. sama-sama...

Tentang KEMANDIRIAN

Jujur saja saya masih jauh dari KEMANDIRIAN, tetapi saya tidak pernah khawatir dengan persepsi-persepsi orang atau tentang paradigma kemand...