Gadis itu menari-nari, tangannya yang
menampakan kulit langsat meliuk-liuk dan melambai kepada sosok di depannya. Jemari
lentiknya seperti mengisyaratkan setiap lelaki untuk menggerakan persaan
cintannya. Sungguh gadis yang cantik. Sosok di depannya berlutut untuk memohon
kepadanya.
“aku ingin memelukmu di keabadian”
Sayup suara bernada kagum muncul
dari mulut sosok itu.
Gadis itu pun tersenyum sembari
menganggukan kepalanya pertanda ia memberikan seluruh hidupnya untuk sosok di
depannya. Tariannya semakin agresif, tubuhnya berputar-putar menedekati sosok
itu dan menjatuhkan diri di kedua tangan pria yang sedari tadi hanya terlihat sebagai
sosok bayangan.
***
“Putus?”
Ujar seorang gadis di hadapanku dengan
nada terkejut.
”Kalau kamu maunya seperti itu ya sudah,
jangan hubungi aku lagi.” sambung gadis itu. Dengan cepat ia memalingkan badannya
membelakangiku dan berjalan menuju persimpangan sambil melambaikan tangannya ke
arah sebuah kendaraan yang sedang melintas.
Bola mataku hanya tertuju ke arahnya
yang beranjak masuk ke dalam taxi yang ia berhentikan sore itu. Sedang tubuh
ini hanya berdiri mematung seraya taxi yang ia tumpangi melaju pergi. Aku
berpikir kenapa harus menyatakan putus dengannya? Tiba-tiba saja rasa sesal telah menyatakan hal
yang sebenarnya tidak aku inginkan ndekap.
Aku kembali tersadar setelah
beberapa menit larut dalam lamunan. Mataku lalu mengok motor sekuter matik miliku
yang terparkir di sebelah trotoar tempat aku berdiri. Lalu aku hampiri ia dan
menghidupkan mesinnya. Sekuterku beranjak dan akupun kembali melamun.
Aku mengakhiri hubunganku dengan
gadis yang sudah aku pacari selama empat tahun lamanya. Gadis yang menjadi
seniorku di kampus. Kami menyatakan pacaran selang dua hari setelah ospek di
jurusanku. Awalnya aku tidak terlalu tertarik padanya. Namun, seiring
berjalannya waktu, aku mulai menemukan beberapa sifatnya yang membuatku
tertarik. Ya! Pada akhirnya aku menjadi takut kehilangan dirinya.
Pada saat aku menyatakan putus
sebenarnya aku sangat ragu. Namun, belakangan ini pacarku mulai menampakan rasa
bosan berhubugan denganku. Sikapnya yang mulai datar menjadi pertanda dia tidak
lagi tertarik padaku. Terlebih dia yang sudah mulai bekerja di sebuah perusahan
mulai sibuk dengan pekerjaanya. Sedangkan aku yang masih kuliah ini mulai
kurang memperhatikannya karena fokus menghadapi skripsi.
Kepalaku kembali teggak, lamunanku
pun menguap perlahan. Kesadaranku kembali menempati kepala yang tadi terisi
kenangan manis yang mungkin tidak akan terulang. Aku perhatikan sekitar.
Jalanan saat itu cukup ramai dengan pejalan kaki dan beberapa pengendara motor.
****
Esoknya aku terbangun dari tempat
peristirahatanku. Sepulang dari perjalanan kemarin aku habiskan waktuku untuk
merenungkan kegundahaanku. Aku tidak habis pikir, kenapa aku bisa memutuskan
kekasihku sedangkan aku sebenarnya masih sayang padanya. Tetapi aku serahkan
pada waktu, mungkin sudah jalanku.
“Rakaaaaaaaaaa, ayo bangun!!!!”
Suara nyaring tanteku seolah
membuatku tersadar. Aku bergegas turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Di
depan wastafel aku membasuh muka, bayangan di depanku seperti mencemoohku
ketika aku melihat mataku sedikit sembam saat aku melihat cermin yang
tergantung di atas wastafel.
“Sarapan sudah siap, cepat keluar
dari markasmu yang bau itu”
Tante Joan memanggilku lagi. Sudah menjadi
kebiasaanya membangunkanku untuk sarapan. Semenjak ibuku meninggal enam tahun
lalu, aku tinggal bersama adik ibuku ini. Ayahku tinggal di Canberra bersama
istri dan adik tiriku. Tante Joan mengusulkan pada ayahku untuk tinggal bersamanya
ketika aku menolak untuk ikut bersama ayahku. Sebenarnya ayah dan ibu tiriku
selalu membujuku untuk tinggal bersama mereka, namun saat itu berat sekali
untuk meninggalkan sahabatku di sekolah menengah.
“iya tante, aku sudah keluar kamar. Ini
aku di kamar mandi” timpalku.
“Sarapan sudah di meja, kamu antar
Tiara ke sekolah ya. Tante pergi dulu ke laundry”
Sebagai single parent tante Joan
membuka usaha binatu sebagai mata pencahariannya. Usahanya cukup sukses, ia
memiliki tiga pegawai di perusahaannya. Aku terkadang membantu tante
mengantarkan hasil cucian ke rumah pelanggan jika kuliah sedang libur.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar