Kantin Ambu adalah tempat petapaan favorit bagi jiwa-jiwa yang lapar, seperti
aku yang saat ini menjadi lapar karena kesialan-kesialan yang mungkin masih
berlanjut hingga nanti sore. Di kantin yang hanya ada beberapa orang ini aku
jadi melamun sambil makan batagor khas Bandung hasil racikan ambu yang ajaib dengan khasiat mood remedy.
Tapi tetap saja perut belum kenyang walau pun sudah diisi batagor ini. Mungkin
karena ambu membuatnya dengan kesal
karena sudah seminggu ini aku ngutang terus.
“maaf ambu, batagor ini sebenarnya enak, tapi lebih enak kalo batagor ini
gratis. Hehe…”
“kehed siah, marukan aing nyieun batagor teh hasil modol? (sialan
lo, memangnnya saya bikin batagor hasil be’ol?” timpal ambu dengan muka mengerenyit. Maklum saja aku dan ambu sudah dekat sekali, sudah seperti
saudara.
“nya hampura atuh ambu (ya maafkan saya dong ambu). Eh ambu hari ini cantik banget deh.”
“euh maneh mah geus teu aneh. Pasti rek ngahutang nya? (huh kamu
sudah tidak aneh. Pasti mau ngutang ya?)”
“ih ambu udah baik pengertian deh. Ambu
pasti masuk surga.” Sambil aku tuangkan teh hangat dalam teko ke gelas.
“huuuh… si maneh nya, unggal-unggal. Awas lamun engke teu dibayar! (Huuuh…
kamu ya, lagi-lagi. Awas kalau tidak dibayar!)”
“pasti dong ambu. Eh ‘mbu, liat
Dennis enggak?”
“liat tadi di parkiran pas ambu nganteurkeun lotek ka si mang Tarja.
(liat tadi di parkiran pas ambu mengantarkan
lotek ke si mang Tarja.)”
“SIAL!!!” teriakku.
“eeeehhh… kunaon ari maneh? (eeeehhh…
kenapa kamu?)”
“dasar monster sipit sialan! harus
gimana nih gue?” gumamku dalam hati menanggapi si Dennis yang tidak menyerah
menagih hutang taruhan tadi pagi.
Setelah basa-basi sedikit aku
pamitan kepada ambu lalu
mengendap-endap pergi ke parkiran untuk melihat situasi. Mungkin Dennis sudah
menungguku di parkiran dengan gigihnya. Aku menghampiri Mang Tarja dan menanyakan Dennis, tapi dia bilang bahwa Dennis
sudah pulang beberapa menit yang lalu. “aman….” Bisikku.
Dengan perasaan lega aku melenggang
menghampiri skuter metik hasil dari merengek ke nyokap. Aku periksa ban skuterku untuk memastikan jika kejahilan
Dennis tidak menimpaku, namun kali ini dia tidak. Aku hidupkan mesin sambil
melihat sekitar, aku takut jika Dennis tiba-tiba membegalku di depan parkiran,
tapi sepertinya aman. Aku keluarkan skuterku dari barisan motor-motor yang
sedang terparkir lalu aku lajukan skuterku perlahan. Ada sedikit keanehan
dengan sekuterku, namun aku belum menyadari apa itu, maka aku hiraukan saja
selama aku bisa menjauhi area parkir dan sesegera mungkin meninggalkan kampus.
***