Minggu, 04 Maret 2018

Smooth Reggae


Bagiku beberapa lagu Bob Marley begitu lembut sekali, tidak jarang membuat saya menjadi melamun akan hal-hal. Aku sebut beberapa lagu seperti Turn Your Light Down Low, Waiting in Vain, Satisfy My Soul (Don't Rock my Boat), dan Stir It Up sebagai Smooth Reggae. Nuansa dari lagu-lagu berikut mampu membawaku ke dalam mood yang sendu, terkadang menjadi romantic irony bagiku. haha...

But at least lagu-lagu bagus memang tidak akan hilang di telan waktu. 



Lalu kenapa kopi disebut kopi?

Pertama-tama terimakasih atas apresiasinya terhadap tulisan iniMaaf responnya lama sengaja di balas malam agar ku bisa seduh kopi lagi di malam yang sedikit sunyi ini, ya sedikit sunyi karena malam ini ku ditemani televisiku yang sedang menyala menyiarkan berita-berita mainstream, acara-acara yang tidak bermutu, sinetron yang tak mendidik, dan film yang absrud karena banyaknya adegan yang di potong, ah tentu saja jangan berharap lebih terhadap sesuatu yang gratis mari kita sereput dulu kopi yang sudah mulai hangat ini
Mengenai pertanyaan kenapa kopi itu tetap di sebut kopi? Ada banyak jawaban tentunya yang bisa menjelaskan kenapa kopi tetap di sebut kopi tergantung cabang ilmu apa yang ingin dipakai tentu saja yang bertanya pasti lebih tahu dari pada yang ditanya, bukankah begitu?
Suara gemericik air kran di toilet itu terdengar sampai ruang tengah, tubuhku mulai merasa mengigil kedingan sekarang entah sekedar sugesti atau memang karena malam sudah larut yang menjadikannya dingin. Inginku membakar sebatang rokok namun ku lupa aku tidak punya rokok ya sudah ku seruput kopi lagi yang sekarang terasa kental di lidahku mungkin terlalu banyak ku masukan bubuk kopinya, sejenak pikiranku melayang setelah tegukan ke dua untuk kopiku malam ini.

Kopi
Kopi itu sederhana apapun bentuknya bagaimanapun prosesnya hasil dari rasanya akan tetap sama, pait! Ya itulah kopi.
Terlapas dari berbagai menu yang di tawarkan oleh coffee shop atau kopi instan yang bisa di temukan dimanapun berbagai nama, bentuk, dan rasa, yang jelas kau akan selalu tahu bahwa rasa kopi itu pait jika kau tidak menambahkan krimer, susu, apalagi gula di dalamnya.

beda instan beda yang menggunakan proses.

Ya beda instan beda yang menggunakan proses walaupun instan masih menggukan proses di dalam pembuatannya tapi dalam waktu dan hasilnya akan tetap beda, ya kita tahu bagaimana kualitas dari sebuah hasil yang dibuat secara instan jika memang membicarakan kuantitas instanlah pemenangnya tapi jika berbicara kualitas jangan berharap mendapatkannya dengan instan lalu bagaimana dengan pembuatan kopi yang melalu proses seperti di coffee shop? Jelas kita bakal menemukan kopi sesungguhnya walau begitu banyak rasa yang ditawarkan tapi rasa sejati dari kopi itu sendiri masih bisa kita temukan terlapas itu menggunakan krimer, susu, gula, atau bahkan perpaduan buah-buahan seperti fruit kopi yang dulu pernah kita coba semasa kuliah.

Ah tak terasa sekarang kopiku mulai dingin ku seruput lagi kopi ini sambil kumainkan gelas berisi kopi ini di tanganku.

Ya kopi itu sederhana dimanapun dia berada apapun sebutannya dan bagaimapun bentuknya rasa aslinya tidak akan pernah berubah! Dia mempunyai ciri khas seakan penikamat kopi bakal tahu hanya dengan menciumnya atau merasakannya dengan mata tertutup sekalipun, walau itu satu tetes.
Itulah mengapa kopi tetap dipanggil kopi menurut sudut pandang liarku, kuharap kau tidak puas atau mungkin bahkan tidak menerima jawabannya
Maaf atas keterbasan ilmuku malam ini yang hanya bisa membeberkan kebenaran kopi sebanyak 2 sendok teh dan 165 ml air saja.
Mengenai pertanyaan kenapa kopi itu tetap di sebut kopi? Ada banyak jawaban tentunya yang bisa menjelaskan kenapa kopi tetap di sebut kopi tergantung cabang ilmu apa yang ingin dipakai tentu saja yang bertanya pasti lebih tahu dari pada yang ditanya, bukankah begitu?Suara gemericik air kran di toilet itu terdengar sampai ruang tengah, tubuhku mulai merasa mengigil kedingan sekarang entah sekedar sugesti atau memang karena malam sudah larut yang menjadikannya dingin. Inginku membakar sebatang rokok namun ku lupa aku tidak punya rokok ya sudah ku seruput kopi lagi yang sekarang terasa kental di lidahku mungkin terlalu banyak ku masukan bubuk kopinya, sejenak pikiranku melayang setelah tegukan ke dua untuk kopiku malam ini.
KopiKopi itu sederhana apapun bentuknya bagaimanapun prosesnya hasil dari rasanya akan tetap sama, pait! Ya itulah kopi.Terlapas dari berbagai menu yang di tawarkan oleh coffee shop atau kopi instan yang bisa di temukan dimanapun berbagai nama, bentuk, dan rasa, yang jelas kau akan selalu tahu bahwa rasa kopi itu pait jika kau tidak menambahkan krimer, susu, apalagi gula di dalamnya.
beda instan beda yang menggunakan proses.
Ya beda instan beda yang menggunakan proses walaupun instan masih menggukan proses di dalam pembuatannya tapi dalam waktu dan hasilnya akan tetap beda, ya kita tahu bagaimana kualitas dari sebuah hasil yang dibuat secara instan jika memang membicarakan kuantitas instanlah pemenangnya tapi jika berbicara kualitas jangan berharap mendapatkannya dengan instan lalu bagaimana dengan pembuatan kopi yang melalu proses seperti di coffee shop? Jelas kita bakal menemukan kopi sesungguhnya walau begitu banyak rasa yang ditawarkan tapi rasa sejati dari kopi itu sendiri masih bisa kita temukan terlapas itu menggunakan krimer, susu, gula, atau bahkan perpaduan buah-buahan seperti fruit kopi yang dulu pernah kita coba semasa kuliah.
Ah tak terasa sekarang kopiku mulai dingin ku seruput lagi kopi ini sambil kumainkan gelas berisi kopi ini di tanganku.
Ya kopi itu sederhana dimanapun dia berada apapun sebutannya dan bagaimapun bentuknya rasa aslinya tidak akan pernah berubah! Dia mempunyai ciri khas seakan penikamat kopi bakal tahu hanya dengan menciumnya atau merasakannya dengan mata tertutup sekalipun, walau itu satu tetes.Itulah mengapa kopi tetap dipanggil kopi menurut sudut pandang liarku, kuharap kau tidak puas atau mungkin bahkan tidak menerima jawabannyaMaaf atas keterbasan ilmuku malam ini yang hanya bisa membeberkan kebenaran kopi sebanyak 2 sendok teh dan 165 ml air saja.

By: Teguh Hermawan

Tentang KEMANDIRIAN

Jujur saja saya masih jauh dari KEMANDIRIAN, tetapi saya tidak pernah khawatir dengan persepsi-persepsi orang atau tentang paradigma kemand...