Jumat, 25 Oktober 2019

PENANTIAN

Angin yang menerpa pohon-pohon di hutan belakang rumah menambahkan kegelisahanku menunggu sebuah jawaban dari ketidakpastian. Aku duduk di teras belakang yang langsung menuju hutan itu, melihan kedalamannya batang-batang pohon yang semakin jauh menjadi semakin gelap. Keseharianku yang seperti abadi seperti ini adalah bagian dari cara mencari jalan keluar dari keramaian yang di sana terselip hasrat dan nafsu-nafsu.
Namun pada suatu ketika aku seperti melihat meteor yang jatuh dari angkasa menuju ke arahku. Cahayanya menyilaukan, seperti tidak lagi aku melihat bayangan-bayangan pohon yang selalu aku pandang. Semakin dekat semakin aku tidak bisa melihat, hingga pada saatnya meteor itu menabraku.
Lalu aku tersadar dari tidurku di sebuah pembaringan yang asing bagiku. Aku mulai melihat sekitar, kudapati sebuah tabung plastik yang tersambung oleh sebuah saluran bening di bawahnya. Lalu aku lihat lagi sekitar, kudapati lagi sebuah peralatan yang asing bagiku, sebuah layar hitam kecokelatan dengan sebuah garis yang lurus dan menukik. Aku bertanya pada diriku, di mana aku berada. Namun nalarku seperti memburam mengkaburkan sebuah bayangan pohon-pohon rindang di belakang rumahku yang diterpa angin.
Aku mulai berteriak sekencang-kencangnya, namun seperti tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutku. Sempat juga aku bertanya apakah aku bisu. Tetapi beberapa saat berdatangan orang-orang dengan setengah berlari menghampiriku dari sebuah pintu di hadapanku yang terbuka secara tiba-tiba. Aku sedikit bingung dan seketika sekitarku seolah berputar hingga menampilkan sebuah cahaya yang serupa.
Aku kini kembali duduk di teras belakang memandangi pohon-pohon yang diterpa angin yang menyejukan. Sedikit demi sedikit suatu perasaan menelisik di dalam dadaku, memunculkan perasaan lembut menenangkan. Damai….

Tentang KEMANDIRIAN

Jujur saja saya masih jauh dari KEMANDIRIAN, tetapi saya tidak pernah khawatir dengan persepsi-persepsi orang atau tentang paradigma kemand...