Angin yang menerpa pohon-pohon di hutan belakang rumah menambahkan
kegelisahanku menunggu sebuah jawaban dari ketidakpastian. Aku duduk
di teras belakang yang langsung menuju hutan itu, melihan
kedalamannya batang-batang pohon yang semakin jauh menjadi semakin
gelap. Keseharianku yang seperti abadi seperti ini adalah bagian dari
cara mencari jalan keluar dari keramaian yang di sana terselip hasrat
dan nafsu-nafsu.
Namun pada suatu ketika aku seperti melihat meteor yang jatuh dari
angkasa menuju ke arahku. Cahayanya menyilaukan, seperti tidak lagi
aku melihat bayangan-bayangan pohon yang selalu aku pandang. Semakin
dekat semakin aku tidak bisa melihat, hingga pada saatnya meteor itu
menabraku.
Lalu aku tersadar dari tidurku di sebuah pembaringan yang asing
bagiku. Aku mulai melihat sekitar, kudapati sebuah tabung plastik
yang tersambung oleh sebuah saluran bening di bawahnya. Lalu aku
lihat lagi sekitar, kudapati lagi sebuah peralatan yang asing bagiku,
sebuah layar hitam kecokelatan dengan sebuah garis yang lurus dan
menukik. Aku bertanya pada diriku, di mana aku berada. Namun nalarku
seperti memburam mengkaburkan sebuah bayangan pohon-pohon rindang di
belakang rumahku yang diterpa angin.
Aku mulai berteriak sekencang-kencangnya, namun seperti tidak ada
suara sedikitpun yang keluar dari mulutku. Sempat juga aku bertanya
apakah aku bisu. Tetapi beberapa saat berdatangan orang-orang dengan
setengah berlari menghampiriku dari sebuah pintu di hadapanku yang
terbuka secara tiba-tiba. Aku sedikit bingung dan seketika sekitarku
seolah berputar hingga menampilkan sebuah cahaya yang serupa.
Aku kini kembali duduk di teras belakang memandangi pohon-pohon yang
diterpa angin yang menyejukan. Sedikit demi sedikit suatu perasaan
menelisik di dalam dadaku, memunculkan perasaan lembut menenangkan.
Damai….