Minggu, 24 September 2017

BANGSAT, KENAPA HARI INI BEGITU SIAL?

                        Senja…
Dia yang bersiluet di tepian tebing di ataas pantai sedang duduk termenung. Memandang lautan yang perlahan melahap sang surya yang lelah bersinar menerangi siang. Ah…. Betapa indahnya sosok itu dari kejauhan, seperti bidadri sore yang telat pulang.

“Furqoooooooonnnnn……”

Sial, imajinasiku hancur gara-gara suara cempreng yang memanggilku. Aku arahkan pandangan mata kepada suara itu dan seketika itu pula aku merasa ingin hilang saja dari dunia ini. Sudah pasti suara cempreng yang tidak enak didengar itu adalah Denis yang sudah tidak sabar menagih hutang hasil taruhan menebak baju Siska mahasiswi jurusan arsitektur seksi yang setiap pagi berjalan melintasi gerbang tempat kami nongkrong.

“sorry gue lagi kebelet nis.” Sambil aku ambil tas ranselku dan langsung cabut dari hadapan monster gorgon sipit dari planet Namex yang menghampiriku.

“anjir, awas lo mau kabur kemana? Gue kejar sampe ujung semesta!!!!”

Aku tancap laju kakiku hingga aku sampai di ujung lorong dan memberhintakn lariku. “masuk toilet, cepat, masuk toilet” pikirku.

“awas lo kalo enggak tepatin janji. Gue tunggu di parkiran!!!” Teriak Denis sambil menggedor-gedor pintu toilet.

Aku pasang telinga, jika saja dia menggedor pintu toilet lagi. “Ah selamat…. Si cungkring sipit akhirnya pergi juga” dalam hatiku bergumam. Namun hanya berselang beberapa detik ketika aku akan membuka kunci pintu toilet. Seseorang menggedor pintu toilet lagi. “sialan si Denis” gumamku lagi.

“wooooyy… siapa sih di dalam? Masih lama engga? Gue kebelet nih.”

“OK, kesialan jilid dua hari ini. Point pertama, suara ini bukan suara cowok. Point ke dua, suara ini kayaknya gue kenal. Point ke tiga mana mungkin cewek masuk toilet cowok kecuali cewek sableng” gumamku selanjunya dalam hati.

“Eh, siapa aja yang di dalem, lo berak batu ya? Buruan dong, gue juga kebelet, udah di ujung”

“Iyaaaaaaa… sebentar” jawabku.

“Eh setan, siapa lo? Cowok cabul dari mana lo?”

“Lo yang gila, mana ada cewek masuk toilet cowok. Lo yang cabul, cewek gila”

“Hey cowok kurang kerjaan, lo engga baca apa tanda di depan? Ini udah jelas toilet cewek, bajingan!”

“Kesialan Jilid tiga. Point pertama, gue tadi pas masuk buru-buru gara-gara dikejar si cungkring bangsat. Point ke dua, gue ‘gak liat ini toilet cewek atau cowok. Point ke tiga, ini udah jelas toilet cewek.” Gumamku lagi dalam hati.

Dengan sedikit ragu gue buka kunci toilet. “klik…. Blammmm…” pintu toilet tiba-tiba mencium mesra hidung mancung warisan kakek buyutku dari Arab ini.
Anjrit, Cewek gila tadi ternyata Siska. Dia langsung menendang pangkal pahaku tempat bersemayam si Kokik yang gagah.

“Ouch!!!” teriakku sambil berdiri membungkun dan memenganggi panggkal paha. Aku keluar berbarengan Siska masuk sambil membanting pintu yang lalu menghantam pantatu yang masi berada di area pintu toilet. Aku sedikit tersungkur.

Segerombolan wanita dengan gaduh masuk ke dalam area toilet. Aku yang sedang terbungkuk dengan satu tangan memegang wastafel pun seketika terkaget. Begitupula segerombolan wanita itu, sambil berteriak mereka memukuliku. Aku berusaha kabur sambil menahan rasa sakit di pangkal pahaku.

“Lari, selamatkan diri.” Gumamku lagi dalam hati.
Aku keluar dari area toilet dengan susah payah dan langsung berlari terbirit sambil menahan rasa sakit. Sial sekali hariku saat ini. Lagi pula kenapa hari ini aku kalah taruhan dari Denis. Hari ini hari sial, ingin segera aku skip hari ini, semoga saja besok aku hilang ingatan untuk sementara. Bangsat!!!!


4 komentar:

  1. Terus gimana nasib bayar taruhannya yaaa? Hahahaha. lanjut kaaa.

    BalasHapus
  2. Mana yang lebih mantap. sakitt dipukuli secara berjamaah atau maluu gara-gara kurang fokus masuk toilet cewe? Wkwkwk
    Sakitnya apa malunya? 😝

    BalasHapus
  3. diawal aku kira kebeletnya cuma alibi doang haha daebakkk oppa!!!

    BalasHapus
  4. Sekap aja cwe ny harus di kamar mandi 😜

    BalasHapus

Tentang KEMANDIRIAN

Jujur saja saya masih jauh dari KEMANDIRIAN, tetapi saya tidak pernah khawatir dengan persepsi-persepsi orang atau tentang paradigma kemand...