Senja…
Dia yang
bersiluet di tepian tebing di ataas pantai sedang duduk termenung. Memandang
lautan yang perlahan melahap sang surya yang lelah bersinar menerangi siang.
Ah…. Betapa indahnya sosok itu dari kejauhan, seperti bidadri sore yang telat
pulang.
“Furqoooooooonnnnn……”
Sial, imajinasiku hancur gara-gara
suara cempreng yang memanggilku. Aku arahkan pandangan mata kepada suara itu
dan seketika itu pula aku merasa ingin hilang saja dari dunia ini. Sudah pasti suara
cempreng yang tidak enak didengar itu adalah Denis yang sudah tidak sabar
menagih hutang hasil taruhan menebak baju Siska mahasiswi jurusan arsitektur seksi
yang setiap pagi berjalan melintasi gerbang tempat kami nongkrong.
“sorry gue lagi kebelet nis.”
Sambil aku ambil tas ranselku dan langsung cabut dari hadapan monster gorgon
sipit dari planet Namex yang menghampiriku.
“anjir, awas lo mau kabur kemana?
Gue kejar sampe ujung semesta!!!!”
Aku tancap laju kakiku hingga aku
sampai di ujung lorong dan memberhintakn lariku. “masuk toilet, cepat, masuk
toilet” pikirku.
“awas lo kalo enggak tepatin janji.
Gue tunggu di parkiran!!!” Teriak Denis sambil menggedor-gedor pintu toilet.
Aku pasang telinga, jika saja dia
menggedor pintu toilet lagi. “Ah selamat…. Si cungkring sipit akhirnya pergi
juga” dalam hatiku bergumam. Namun hanya berselang beberapa detik ketika aku
akan membuka kunci pintu toilet. Seseorang menggedor pintu toilet lagi. “sialan
si Denis” gumamku lagi.
“wooooyy… siapa sih di dalam? Masih
lama engga? Gue kebelet nih.”
“OK, kesialan jilid dua hari ini.
Point pertama, suara ini bukan suara cowok. Point ke dua, suara ini kayaknya
gue kenal. Point ke tiga mana mungkin cewek masuk toilet cowok kecuali cewek
sableng” gumamku selanjunya dalam hati.
“Eh, siapa aja yang di dalem, lo
berak batu ya? Buruan dong, gue juga kebelet, udah di ujung”
“Iyaaaaaaa… sebentar” jawabku.
“Eh setan, siapa lo? Cowok cabul
dari mana lo?”
“Lo yang gila, mana ada cewek masuk
toilet cowok. Lo yang cabul, cewek gila”
“Hey cowok kurang kerjaan, lo engga
baca apa tanda di depan? Ini udah jelas toilet cewek, bajingan!”
“Kesialan Jilid tiga. Point
pertama, gue tadi pas masuk buru-buru gara-gara dikejar si cungkring bangsat.
Point ke dua, gue ‘gak liat ini toilet cewek atau cowok. Point ke tiga, ini
udah jelas toilet cewek.” Gumamku lagi dalam hati.
Dengan sedikit ragu gue buka kunci
toilet. “klik…. Blammmm…” pintu toilet tiba-tiba mencium mesra hidung mancung
warisan kakek buyutku dari Arab ini.
Anjrit, Cewek gila tadi ternyata
Siska. Dia langsung menendang pangkal pahaku tempat bersemayam si Kokik yang
gagah.
“Ouch!!!” teriakku sambil berdiri
membungkun dan memenganggi panggkal paha. Aku keluar berbarengan Siska masuk
sambil membanting pintu yang lalu menghantam pantatu yang masi berada di area
pintu toilet. Aku sedikit tersungkur.
Segerombolan wanita dengan gaduh
masuk ke dalam area toilet. Aku yang sedang terbungkuk dengan satu tangan
memegang wastafel pun seketika terkaget. Begitupula segerombolan wanita itu,
sambil berteriak mereka memukuliku. Aku berusaha kabur sambil menahan rasa
sakit di pangkal pahaku.
“Lari, selamatkan diri.” Gumamku
lagi dalam hati.
Aku keluar dari area toilet dengan
susah payah dan langsung berlari terbirit sambil menahan rasa sakit. Sial
sekali hariku saat ini. Lagi pula kenapa hari ini aku kalah taruhan dari Denis.
Hari ini hari sial, ingin segera aku skip hari ini, semoga saja besok aku
hilang ingatan untuk sementara. Bangsat!!!!