Aku melajukan skutermetikku dengan
kecepatan sekitar 40 meter per jam setelah berbelok begitu keluar areal
fakultasku menuju ke arah bundaran dekat gedung FISIP. Namun saat aku melambat
untuk membelokan skuterku, keseimbanganku sedikit gontai seperti ada seseorang
di jok belakangku yang menjadi penyebab. Aku sediki menoleh ke belakang. Ya…
aku merasakan ada seseorang di belakang yang ikut menumpang, tidak salah lagi.
Bulu kudukku merinding, karena aku teringat akan cerita-cerita mistis di
sekitar universitasku, aku pun membaca doa sebisaku agar setidaknnya hantu atau
dedemit dibelakangku bisa terusir.
“Cieeee… langgeng terus pacarannya
ya Qon” tiba-tiba seseorang di trotoar berkanopi berteriak dengan nada ledekan.
Aku pun semakin enggan menoleh ke belakang.
Aku asumsikan jika seseorang
berkata seperti itu berarti hantu itu dapat menampakan diri ke semua orang dan
dengan begitu aku simpulkan hantu di jok belakangku ini berjenis kelamin
perempuan. Mungkin saja Kuntilanak yang kata orang-orang penunggu pohon di
pertigaan FISIP nebeng pulang denganku. Sial… bulu kudukku semakin merinding,
badanku pun ikut bergetar dan sedikit terasa lemas.
“GOBLOG
SIAH! Emangnnya kita homreng!” tiba-tiba sebuah suara menimpal dari belakang
telingaku.
Tidak
salah lagi, aku kenal suara ini. Suara cempreng tadi di depan gerbang fakultas,
suara Dennis. Kapan dia sudah berada di jok belakang sekuter m etikku? Aku kira ada hantu atau dedemit yang ikut
menumpang, tidak tahunnya kesialan masih mengikutiku
“Nis,
maaf nis. Gue lagi bokek, jadi taruhannya batal dulu ya.” Dengan nada gemetar
aku berkata pada Dennis.
“gak
bisa Qon, lu jangan bikin gue amsyong. Kalau lu gak bisa bayar taruhan berati
lo harus anter gue sekarang ke fotocopy-an terus ke depan parkiran gedung UKM
barat. Ok?” dengan nada riang Dennis menjawab.
“lu mau
ngapain Nis?” jawabku heran.
“udah
lu nurut aja, atau gue gak mau tau lu harus bayar taruhan lu sekarang.
Dengan
hati bertanya-tanya aku antar Dennis ke potokopian di depan kampus dekat gedung
UKM.
***