Kamis, 02 Juli 2020

Tentang KEMANDIRIAN

Jujur saja saya masih jauh dari KEMANDIRIAN, tetapi saya tidak pernah khawatir dengan persepsi-persepsi orang atau tentang paradigma kemandirian yang disepakati saat ini.
Saya sedikin mendefinisi ulang tentang KEMANDIRIAN. Sebelum saya melanjutkan, pernahkah sahabat-sahabat sekalian mempertanyakan apa itu KEMANDIRIAN? Lalu pernahkah anda bertanya "Sudahkah saya MANDIRI?"
Definisi tentang mandiri bagi setiap orang berbeda-beda, namun dari banyak definisi, ada satu kesamaan, yaitu dapan melakukan dengan sendiri atau tidak bergantung pada orang lain.
Namun sayangnya sebagian orang terdekat saya selalu menuntut saya untuk menjadi mandiri. Lalu pertanyakan yang saya selalu ajukan adalah, kemandirian seperti apa yang mereka tuntut? seringkali mereka yang menuntut kemandirian adalah mereka yang tidak mau dibebani oleh beberapa kewajiban sosial atas individu lain. Maka kata mandiri adalah sebuah senjata untuk melepaskan hubungan sosial secara halus.
Menurut Ralf Dahrendorf seorang sosiolog dari Jerman berpendapat bahwa hakikatnya manusia adalah Homo Sociologicus, atau manusia sosial. Secara sosial manusia moderen tidak bisa tidak bergantung pada orang lain, contohnya: Jika kamu seorang yang berpofesi sebagai tukang ojek, lalu tidak bisa tidak kamu mendapatkan keuntungan tanpa memberikan jasa ojek-mu pada orang lain. Maka secara profesi kamu tidak bisa mandiri.
Lalu bagai mana hidup Mandiri itu? Hidup Mandiri adalah hidup di mana kita betul-betul tidak bergantung orang lain seperti menanam bahan-bahan makanan sendiri di kebun sendiri, maka di situ sobat sudah mandiri. Jadi tidak ada orang yang benar-benar mandiri pada era modern ini, kecuali kita harus mengembalikan standar hidup kita menjadi orang zaman dulu atau lebih extermnya menjadi seorang Tarzan (mungkin).
Sebaiknya kita tidak boleh menuntut orang untuk menjadi Mandiri, karena orang tersebut dalam beberapa hal bisa mandiri, namun tidaklah bisa menjadi mandiri sepenuhnya. Lagi pula kita memiliki tanggung jawab sosial, moral, dan Agama untuk saling membantu dalam setiap hal.
Sobat-sobat jangan minder karena masih belum Mandiri. Mari kita saling membantu. kemon....
N.B. Mohon jangan terlalu serius menanggapi, karena hak anda untuk tidak setuju. Tetapi hak saya untuk menulis, lagi pula, ini adalah metode saya melatih kembali kemampuan menulis saya karena saya bertanggung jawab atas ilmu yang saya pelajari dulu saat menjadi seorang mahasiswa jurusan sastra. Mohon maaf jika mengganggu, jika bermanfaat, maka saya ucapkan Terima kasih..

Senin, 29 Juni 2020

Bukan Sebuah Film

 Pernah aku menonton sebuah film tentang patah hati, judulnya "500 days of Summer". Saat itu entah kenapa kebetulan sekali Aku baru saja putus dengan kekasihku, seperti mencemooh keadaanku saat itu. Mungkin beberapa orang akan bilang lebay padaku, tapi Aku tidak peduli. Kisah pasca putus aku tulis di buku jurnal harianku, kurang lebih 2 tahun aku menulikannya hingga 3 buku jurnal aku habiskan. Aku kira akhir tulisan di buku jurnal itu akan berakhir ketika aku sudah menerima mantan kekasihku menikah dengan selingkuhannya. Namun tidak, beberapa bulan lalu aku menerima kabar dia Meninggal, sayang sekali aku tidak bisa melayatnnya karena aku putus dengan cara yang sangat-sangat tidak baik. Kabar itu aku seperti membuka lagi sedikit luka lama yang sudah mulai hilang. Aku ternyata masih mencintainnya, bedanya kini dia benar-benar tidak ada di dunia ini. Aku tidak akan pernah mampu melupakannya, karena Dia lah yang memberikan luka paling dalam. Aku sampai saat ini tidak pernah membuka hati pada siapa pun, aku berharap jika dia tidak meninggal aku bisa bertemu sesekali dengan Dia. Namun semua sudah tidak mungkin. 

500 days of Summer ternyata hanya sebuah fiktif, kenyataannya aku tidak pernah bertemu dengan Autumn. Sayang sekali diriku. ha ha ha

Kini aku semakin kehilangan arti Hidup, orang-orang yang aku cintai satu persatu meninggalkan dunia ini, termasuk ibuku.

Jumat, 25 Oktober 2019

PENANTIAN

Angin yang menerpa pohon-pohon di hutan belakang rumah menambahkan kegelisahanku menunggu sebuah jawaban dari ketidakpastian. Aku duduk di teras belakang yang langsung menuju hutan itu, melihan kedalamannya batang-batang pohon yang semakin jauh menjadi semakin gelap. Keseharianku yang seperti abadi seperti ini adalah bagian dari cara mencari jalan keluar dari keramaian yang di sana terselip hasrat dan nafsu-nafsu.
Namun pada suatu ketika aku seperti melihat meteor yang jatuh dari angkasa menuju ke arahku. Cahayanya menyilaukan, seperti tidak lagi aku melihat bayangan-bayangan pohon yang selalu aku pandang. Semakin dekat semakin aku tidak bisa melihat, hingga pada saatnya meteor itu menabraku.
Lalu aku tersadar dari tidurku di sebuah pembaringan yang asing bagiku. Aku mulai melihat sekitar, kudapati sebuah tabung plastik yang tersambung oleh sebuah saluran bening di bawahnya. Lalu aku lihat lagi sekitar, kudapati lagi sebuah peralatan yang asing bagiku, sebuah layar hitam kecokelatan dengan sebuah garis yang lurus dan menukik. Aku bertanya pada diriku, di mana aku berada. Namun nalarku seperti memburam mengkaburkan sebuah bayangan pohon-pohon rindang di belakang rumahku yang diterpa angin.
Aku mulai berteriak sekencang-kencangnya, namun seperti tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutku. Sempat juga aku bertanya apakah aku bisu. Tetapi beberapa saat berdatangan orang-orang dengan setengah berlari menghampiriku dari sebuah pintu di hadapanku yang terbuka secara tiba-tiba. Aku sedikit bingung dan seketika sekitarku seolah berputar hingga menampilkan sebuah cahaya yang serupa.
Aku kini kembali duduk di teras belakang memandangi pohon-pohon yang diterpa angin yang menyejukan. Sedikit demi sedikit suatu perasaan menelisik di dalam dadaku, memunculkan perasaan lembut menenangkan. Damai….

Rabu, 21 Agustus 2019

Tanpa Tujuan

Sudah lebih dari tiga tahun aku tidak lagi memiliki hubungan dengan Dia yang telah menghancurkan arah hidupku. Secara fisik aku baik-baik saja, namun mentalku sedikit terguncang. Bagai mana tidak, kekasih yang telah aku dambakan meninggalkanku begitu saja dengan pria lain. Kini Dia telah menikah dengan pria itu.
Sampai saat ini aku tidak pernah tau ke mana arah tujuanku, aku sudah seperti mayat hidup, tidak tau harus berbuat apa.
Ditambah kepergian Ibuku sebagai tujuanku untuk tetap hidup. kini tidak ada lagi alasan untukku tetap hidup. Namun masih ada Ayah, yang entahlah, memperjuangkanku untuk tetap hidup atau hanya menganggapku sebagai beban saja.
Kini aku hanya bermain musik, itu pun seperti mau tidak mau aku tergabung dalam dua grup musik. entahlah setidaknya menjadi Short Escape untu aku bertahan hidup, karna ada harapan walau pun sangat kecil untuk aku tetap memiliki tujuan.
Sayagnya aku terkadang masih merindukannya, namun Dia sudah bukan miliku.

Jumat, 05 April 2019

BANGSAT, KENAPA HARI INI BEGITU SIAL? bag. 3


Aku melajukan skutermetikku dengan kecepatan sekitar 40 meter per jam setelah berbelok begitu keluar areal fakultasku menuju ke arah bundaran dekat gedung FISIP. Namun saat aku melambat untuk membelokan skuterku, keseimbanganku sedikit gontai seperti ada seseorang di jok belakangku yang menjadi penyebab. Aku sediki menoleh ke belakang. Ya… aku merasakan ada seseorang di belakang yang ikut menumpang, tidak salah lagi. Bulu kudukku merinding, karena aku teringat akan cerita-cerita mistis di sekitar universitasku, aku pun membaca doa sebisaku agar setidaknnya hantu atau dedemit dibelakangku bisa terusir.
“Cieeee… langgeng terus pacarannya ya Qon” tiba-tiba seseorang di trotoar berkanopi berteriak dengan nada ledekan. Aku pun semakin enggan menoleh ke belakang.
Aku asumsikan jika seseorang berkata seperti itu berarti hantu itu dapat menampakan diri ke semua orang dan dengan begitu aku simpulkan hantu di jok belakangku ini berjenis kelamin perempuan. Mungkin saja Kuntilanak yang kata orang-orang penunggu pohon di pertigaan FISIP nebeng pulang denganku. Sial… bulu kudukku semakin merinding, badanku pun ikut bergetar dan sedikit terasa lemas.
“GOBLOG SIAH! Emangnnya kita homreng!” tiba-tiba sebuah suara menimpal dari belakang telingaku.
Tidak salah lagi, aku kenal suara ini. Suara cempreng tadi di depan gerbang fakultas, suara Dennis. Kapan dia sudah berada di jok belakang sekuter m etikku? Aku kira ada hantu atau dedemit yang ikut menumpang, tidak tahunnya kesialan masih mengikutiku
“Nis, maaf nis. Gue lagi bokek, jadi taruhannya batal dulu ya.” Dengan nada gemetar aku berkata pada Dennis.
“gak bisa Qon, lu jangan bikin gue amsyong. Kalau lu gak bisa bayar taruhan berati lo harus anter gue sekarang ke fotocopy-an terus ke depan parkiran gedung UKM barat. Ok?” dengan nada riang Dennis menjawab.
“lu mau ngapain Nis?” jawabku heran.
“udah lu nurut aja, atau gue gak mau tau lu harus bayar taruhan lu sekarang.
Dengan hati bertanya-tanya aku antar Dennis ke potokopian di depan kampus dekat gedung UKM.

***

Senin, 04 Maret 2019

Jangan Pernah Berhenti (Ngeband)

Sudah lama sekali tidak posting di blog pribadi saya. Mungkin saya terlalu sibuk tidur hahaha... Sebenarnya kemarin-kemarin Laptop saya jual untuk keperluan equipment bermusik saya, maklum akhir-akhir ini peralatan musik hargannya naik sedakngkan musisi minim modal seperti saya dengan kebutuhan peralatan yang bertambah pulah mengharuskan memutar otak agar mendapatkan dana untuk memenuhi keperluan bermusik saya. hehe..

Dua tahun terakhir ini cukup banyak band yang mengajak saya untuk bergabung dari menjadi pemain tetap atau hanya sekedar pengisi saja. Diawali oleh Drummer saya di band Stare at the Skyline yang mengajak saya untuk ikut dalam sebuah project band alternative Lucia bersama teman-temannya. Band ini cukup profesional dalam managerial hingga akhirnnya jadwal saya cukup padat dengan band ini, dari mulai penggarapan cover lagu-lagu yang akan dibawakan di kedai dan cafe di Jatinangor hingga rekaman untuk video cover di Youtube. Jujur saja dengan Lucia ini kali pertama saya mendapatkan uang dari hasil manggung, sebelumnya saya bernasib seperti band-band lain, hanya mendapatkan ucapan terimakasih dan nasi kotak alakadarnya. haha...

Setelah cukup sibuk dengan sok sok profesional di Lucia, saya dapat tawaran main dalam event Music ala Campus bersama band project-an lain yang digagas pasangan suami istri Fajar dan Vera. Bandnya diberi nama Fave, singkatan dari nama mereka, Fajar Vera. Dengan band ini saya mendapatkan pengalaman-pengalaman yang baru bagi saya. Bersaman mereka saya mendapatkan kesempatan manggung bersama Fiersa Besari di salah sati Cafe di Jatinangor. Cukup prestisius bagi saya musisi lokal yang hanya mengandalkan keberanian tanpa pernah lulus dalam pendidikan formal musik, hahaha... Band ini cukup banyak tawaran manggung, walapun begitu saya harus menolak beberapa diantarannya karena saya masih ada jadwal juga dengan Lucia.


Lucia dan band bentukan saya, Stare at the Skyline, nampaknya di ambang hiatus atau bahasa umum nya Vacum, karena teman saya semasa kuliah sekaligus penabuh Drum dari kedua band ini harus hijrah kerja ke planet lain. haha.. Sayangnnya Fave juga mengalami nasib yang sama, Fajar dan Vera nampaknnya sudah ingin punya momongan, sehingga mengharuskan mereka untuk membuat program berkembangbiak haha...

Untuk mengisi kekosongan saya bergerak dalam bidang event planner di tempat saya tinggal bersama rekan-rekan saya di Pojok Seni Tanjungsari. Cukup banyak event yang saya garap termasuk Record Store Day (RSD) 2017 di Sumedang. Acara tersebut cukup mendapatkan banyak pengunjung dari sekitar, mungkin karena saya dan teman saya berhasil mengundang band-band yang memiliki reputasi yang cukup bagus di kalangan penikmat musik. Dalam RSD itu saya mendatangkan band Progresive Deathmetal asala Bandung, Humiliation. Mereka saya undang untuk mengisi sharing season tentang album baru mereka yang digarap oleh maestro sound engineer internasional, Mark Leuwis. Selain itu saya bersama teman-teman Pojok Seni juga berhasil mendatangkan band post-rock asal Bandung, Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) yang menarik para penikmat musik insturmental dari sekitar Jatinangor dan Sumedang.

Disela-sela saya membuat event, saya dan band Hardcore saya, Snapkids, berencana untuk mengadakan tour di beberapa kota yang kami beri nama West Side Tour, karena memang destinasinnya di beberapa kota di Jawa Barat. Dalam tour itu saya berkesempatan bertemu dengan orang-orang hebat di skena Hardcore Youth Crew Indonesia. Saya bisa berkenalan dengan band legend Set The Fire dan Produser band Hardcore internasional, Zumi, yang berasal dari Jepang. Sempat dia menawarkan tour di Jepang, namun kami sedang fokus dengan album baru kami. Dalam tour itu juga saya berkesempatan bertemu dengan ALLxIN dari Australia, teman JRX atau dikenal junga dengan Jerinx Superman Is Dead. Dia juga sedang melakukan tour mancanegara, dan mengajak saya dalam tournya di Bandung. Saya juga berbincang banyak dengan gitaris ALLxIN dan sempat juga bertukar kontak pribadi. Senang rasannya dapat bertemu mereka, band Hardcore yang terkenal di negarannya.

Saat ini saya sedang ikut menggarap album band saya sendiri, Snapkids, dan juga band teman saya, Rasputin. Ya mudah-mudahan persiapan album Snapkids yang slow but sure namun maksimal ini dapat disambut dengan baik oleh para youth crew seantero dunia haha... Rasputin juga mudah-mudahan cepat beres penggarapan lagunnya, karena jujur saja, saya baru sekali mendapatkan materi yang menarik di Rasputin ini, menambah pengetahuan bermusik saya. hahaha...

Jadi saya berpesan pada teman-teman para pembaca yang keren-keren dan baik ini untuk jangan putus asa bermain musik. Saya ingat teman saya Reduan, gitarisnya Jasad, pernah bilang "dalam hidup apa yang kamu tuju jangan setengah-setengah, harus konsisten dan total." Lalu apa yang Redu katakan seperempatnnya sudah saya rasakan. Pengalaman-pengalaman saya bermusik ini tidak dapat saya beli dari manapun kecuali dengan konsistensi dan totalitas. Jadi teman-teman jangan berhenti bermusik, terus berkarya dan semangaaaaaaaaaaaaaatttt!!!! hehehe....

Minggu, 04 Maret 2018

Smooth Reggae


Bagiku beberapa lagu Bob Marley begitu lembut sekali, tidak jarang membuat saya menjadi melamun akan hal-hal. Aku sebut beberapa lagu seperti Turn Your Light Down Low, Waiting in Vain, Satisfy My Soul (Don't Rock my Boat), dan Stir It Up sebagai Smooth Reggae. Nuansa dari lagu-lagu berikut mampu membawaku ke dalam mood yang sendu, terkadang menjadi romantic irony bagiku. haha...

But at least lagu-lagu bagus memang tidak akan hilang di telan waktu. 



Tentang KEMANDIRIAN

Jujur saja saya masih jauh dari KEMANDIRIAN, tetapi saya tidak pernah khawatir dengan persepsi-persepsi orang atau tentang paradigma kemand...